oRDiNaRyHomEBaSe

Just Welcome, Just Enjoy, n give your comment

Lok Baintan, Pasar Terapung Terakhir

IBU separuh baya itu mengayuh perahu kecil menembus kabut pagi menyusuri sungai. Buah jeruk dan sayur tigarun masih segar menumpuk di perahu. Beberapa ibu juga menyusul, jukung -sebutan setempat untuk perahu kecil, milik mereka berjejer, masing-masing membawa hasil alam untuk dijual di pasar terapung Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Read the rest of this entry »

Filed under: ! Newsflash, Hiburan, Wisata , , , , ,

KEBENARAN SEJARAH “NUNUSAKU”

Dengan Nunu Saku di maksudkan Pohon Beringin ( Buyan Tres ) . Tetapi Nunu Saku sesuai penjelasan tradisionil lebih menyerupai pohon popythea seperti jenis yang di gambarkan oleh A.R Wallace ( Malay Archipelago 1869.p.64).

” Nunu Saku ” terbentuk dari tiga kumpulan akar yang berpijak pada tepi sebuah danau; pohon bertumbuh menutupi danau.

Dari tempat dimana akar akar-akar memusat menjadi satu, keluarlah air yang mengisi danau ( Waele Butui – Air dari alat kelamin laki-laki). Air dalam danau disebut : Nunu Wae Sane = satu satu air suci yang kudus yang hidup dan yang abadi. Dari danai ini air menghilang kedalam bumi dan melalui terowong didalam tanah muncul kembali sebagai mata air pada bagian hulu ketiga batang air, dan melalui ketiga batang air Eti – Tala – Sopalewa di antarnya air turun kemuara. Read the rest of this entry »

Filed under: ! Newsflash, Pendidikan , , , , ,

Pati Ka Ata Mata, Ritual di Puncak Kelimutu

Suatu pagi, cuaca mendung dan diguyur hujan gerimis. Namun, ketika matahari mulai meninggi, cuaca berubah cerah dan semarak, apalagi dihiasi rerumpunan arngoni (Vaccinium varingiaefolium), tumbuhan endemik yang tumbuh subur di sekitar puncak Gunung Kelimutu.

Tanaman arngoni yang telah berbuah segar dan masak juga seakan menyambut hangat kehadiran para mosalaki pu’u (tetua adat) hari itu yang memenuhi areal helipad di zona inti kawasan Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Read the rest of this entry »

Filed under: ! Newsflash , , ,

2012: Mencari Kiamat ke Negeri Cina

Berbeda dengan Independence Day, 2012 ‘membunuh’ Presiden Amerika Serikat.

Roland Emmerich adalah kehancuran. Ia meluluhlantakkan beragam lansekap termasyhur Amerika Serikat dan dunia semacam Gedung Putih dan Empire State Building di Amerika Serikat, Patung Yesus Sang Penebus di Rio de Janeiro, Brazil, atau bahkan Basilika Santa Peter di Vatikan. Ia ternyata juga pernah berniat menyungkurkan Kabah yang kini masih tegak di Mekah, Arab Saudi, kota bagi peziarah muslim tahunan, dalam filmnya.

“Saya mesti mengakui bahwa saya pernah ingin melakukannya,” kata Emmerich seperti dikutip dari The Guardian, “tapi rekan saya Harald [Kloser] bilang harga kepala saya lebih mahal daripada sebuah film.” Si penghancur-segala nyatanya sungkan melawan fatwa pancung.

2012, film terbaru sutradara kelahiran Jerman itu, yang kini menggembungkan bioskop-bioskop dunia dengan penonton yang gemas dan penasaran, menjadi bukti atas ucapannya. Film yang bersandar dari perhitungan bangsa Maya yang, konon, menaksir bahwa dunia berakhir pada tahun 2012 itu tak jauh beda dengan karya-karya Emmerich lainnya seperti Independence Day atau The Day After Tomorrow. Penonton akan ‘dikotori’ dengan debu dari bangunan yang lunglai dan poranda, ‘dibasahi’ oleh air hujan yang berderai liar, serta ‘dicederai’ oleh tumbukan beton ratusan ton dan mobil yang lintang-pukang. Dunianya bukanlah dunia yang sarat dengan pertukaran antara sunyi, bunyi dan percakapan. Dunianya ramai dengan teriakan, ledakan, dan belulang remuk.

Kisah bermula ketika Dr Adrian Helmsley (Chiwetel Ejiofor) dan temannya, seorang ilmuwan India, menemukan bahwa inti bumi mulai meleleh, sesuatu yang dapat memicu bencana alam maha dahsyat. Dr Adrian terkejut, lalu membocorkan fenomena alam itu kepada pemerintah. Sebuah kelompok bawah tanah pun didirikan, yang didanai sekumpulan orang super kaya dunia. Mereka diam-diam membiayai pembangunan bahtera raksasa demi dapat menyelamatkan diri dari bencana.

Kamera lalu berpindah ke tokoh utama kita, Jackson Curtis, yang dimainkan dengan amat bersemangat oleh John Cusack. Ia seorang penulis novel fiksi ilmiah kapiran beranak dua yang pisah ranjang dengan istrinya.

Cerita mulai bergerak ketika Curtis dan kedua anaknya mengunjungi situs wisata kawah Yellowstone. Di sana ia bertemu dengan Charlie Frost, penyiar radio yang memercayai kiamat terjadi pada tahun 2012. Si penyiar mengungkapkan segala yang ia percayai. Seperti dapat ditebak, penonton sekalian, Curtis menihilkan cerita Charlie. Namun, perlahan, kisah Charlie berangsur terbukti. California, tempat mereka tinggal, dikerkah gempa sempurna. Tanah rengkah. Rumah goyah. Jembatan berantakan. Aksi penyelamatan a la Emmerich pun terjadilah. Curtis membawa anak-anak dan istrinya, serta lelaki-baru istrinya, menembus kota yang mulai binasa. Mereka coba menuju tempat rahasia di mana bahtera bersandar. Negeri Cina.

Dalam hiruk-pikuk evakuasi, Presiden Amerika Serikat memutuskan untuk tinggal. Ia ingin ‘menemani’ warganya yang tak bisa mengungsi. Tidak seperti di Independence Day di mana Presiden AS menjadi semacam ‘pemimpin dunia’ ketika menghadapi ancaman kebinasaan, 2012 ‘membunuh’ presidennya. Syahdan, Curtis dihadapkan pada kebetulan-kebetulan yang akhirnya membawa ia dan keluarganya ke Pegunungan Himalaya, tempat parkir bahtera itu. Nah, sampai di sini, kita agaknya sudah bisa membaca ke mana cerita akan berujung. Seorang kepala keluarga yang pernah gagal akan kembali menemukan cinta setelah menjadi pahlawan.

Dalam 2012, Emmerich memasukkan unsur multikulturalisme yang, mungkin, akan membantu pemasarannya. Karakter-karakter dari negeri India dan China muncul pada layar, yang kemudian secara kebetulan berhubungan satu sama lain, meskipun tidak diberikan peran sentral. Dunia juga kiranya ingin menyaksikan secara visual bagaimana kiranya ‘akhir dunia’ setelah mereka digempur dengan berbagai berita di media tentang kiamat 2012.

Yang pasti, ketika menonton film semacam ini kita tidak perlu banyak bertanya tentang bolong logika di sana-sini. Nikmati saja efek visualnya yang super mahal itu di depan layar putih dan tertawakan ketololan kita sekencang-kencangnya ketika telah keluar dari bioskop.

sumber : VIVAnews.com

Filed under: Hiburan , , , , , , ,

Batik is Indonesia, Batik adalah Indonesia

Batik is Indonesia

We are proud of Batik as the Heritage of Indonesia. It is our responsibility to encourage a reawakening to real batik made and owned by Indonesia. As an example, for hundreds of years batik has been a part of the labuhan ritual, the tradition of throwing one’s troubles into the sea in materials that sail away. This preservation should come from communities, not only government and expert. Let’s unite to support Batik is Indonesia

Batik adalah Indonesia

Kami bangga Batik sebagai Warisan Budaya Indonesia. Ini adalah tanggung jawab kita untuk mendorong kebangkitan batik yang sudah nyata dibuat dan dimiliki oleh Indonesia. Sebagai contoh, selama ratusan tahun batik telah menjadi bagian dari upacara labuhan, tradisi melempar satu kesulitan ke laut dalam bahan yang berlayar jauh. Menjaga Kebudayaan Indonesia ini harus datang dari masyarakat, tidak hanya pemerintah dan ahli. Mari kita bersatu untuk mendukung Batik adalah Indonesia

kaskus.us

Filed under: ! Newsflash , , ,