oRDiNaRyHomEBaSe

Just Welcome, Just Enjoy, n give your comment

Tayang di Mana-mana, “New Moon” Tetap Diantre

Meski sudah diputar di belasan bioskop, antrean “New Moon” tetap mengular. Antusiasme menonton “New Moon” tak kalah dengan film “2012″. Hari pertama diputar di luas di banyak bioskop, sekuel “Twilight” ini tetap mengundang animo besar.

Read the rest of this entry »

Filed under: ! Newsflash, Hiburan , , ,

Lok Baintan, Pasar Terapung Terakhir

IBU separuh baya itu mengayuh perahu kecil menembus kabut pagi menyusuri sungai. Buah jeruk dan sayur tigarun masih segar menumpuk di perahu. Beberapa ibu juga menyusul, jukung -sebutan setempat untuk perahu kecil, milik mereka berjejer, masing-masing membawa hasil alam untuk dijual di pasar terapung Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Read the rest of this entry »

Filed under: ! Newsflash, Hiburan, Wisata , , , , ,

2012: Mencari Kiamat ke Negeri Cina

Berbeda dengan Independence Day, 2012 ‘membunuh’ Presiden Amerika Serikat.

Roland Emmerich adalah kehancuran. Ia meluluhlantakkan beragam lansekap termasyhur Amerika Serikat dan dunia semacam Gedung Putih dan Empire State Building di Amerika Serikat, Patung Yesus Sang Penebus di Rio de Janeiro, Brazil, atau bahkan Basilika Santa Peter di Vatikan. Ia ternyata juga pernah berniat menyungkurkan Kabah yang kini masih tegak di Mekah, Arab Saudi, kota bagi peziarah muslim tahunan, dalam filmnya.

“Saya mesti mengakui bahwa saya pernah ingin melakukannya,” kata Emmerich seperti dikutip dari The Guardian, “tapi rekan saya Harald [Kloser] bilang harga kepala saya lebih mahal daripada sebuah film.” Si penghancur-segala nyatanya sungkan melawan fatwa pancung.

2012, film terbaru sutradara kelahiran Jerman itu, yang kini menggembungkan bioskop-bioskop dunia dengan penonton yang gemas dan penasaran, menjadi bukti atas ucapannya. Film yang bersandar dari perhitungan bangsa Maya yang, konon, menaksir bahwa dunia berakhir pada tahun 2012 itu tak jauh beda dengan karya-karya Emmerich lainnya seperti Independence Day atau The Day After Tomorrow. Penonton akan ‘dikotori’ dengan debu dari bangunan yang lunglai dan poranda, ‘dibasahi’ oleh air hujan yang berderai liar, serta ‘dicederai’ oleh tumbukan beton ratusan ton dan mobil yang lintang-pukang. Dunianya bukanlah dunia yang sarat dengan pertukaran antara sunyi, bunyi dan percakapan. Dunianya ramai dengan teriakan, ledakan, dan belulang remuk.

Kisah bermula ketika Dr Adrian Helmsley (Chiwetel Ejiofor) dan temannya, seorang ilmuwan India, menemukan bahwa inti bumi mulai meleleh, sesuatu yang dapat memicu bencana alam maha dahsyat. Dr Adrian terkejut, lalu membocorkan fenomena alam itu kepada pemerintah. Sebuah kelompok bawah tanah pun didirikan, yang didanai sekumpulan orang super kaya dunia. Mereka diam-diam membiayai pembangunan bahtera raksasa demi dapat menyelamatkan diri dari bencana.

Kamera lalu berpindah ke tokoh utama kita, Jackson Curtis, yang dimainkan dengan amat bersemangat oleh John Cusack. Ia seorang penulis novel fiksi ilmiah kapiran beranak dua yang pisah ranjang dengan istrinya.

Cerita mulai bergerak ketika Curtis dan kedua anaknya mengunjungi situs wisata kawah Yellowstone. Di sana ia bertemu dengan Charlie Frost, penyiar radio yang memercayai kiamat terjadi pada tahun 2012. Si penyiar mengungkapkan segala yang ia percayai. Seperti dapat ditebak, penonton sekalian, Curtis menihilkan cerita Charlie. Namun, perlahan, kisah Charlie berangsur terbukti. California, tempat mereka tinggal, dikerkah gempa sempurna. Tanah rengkah. Rumah goyah. Jembatan berantakan. Aksi penyelamatan a la Emmerich pun terjadilah. Curtis membawa anak-anak dan istrinya, serta lelaki-baru istrinya, menembus kota yang mulai binasa. Mereka coba menuju tempat rahasia di mana bahtera bersandar. Negeri Cina.

Dalam hiruk-pikuk evakuasi, Presiden Amerika Serikat memutuskan untuk tinggal. Ia ingin ‘menemani’ warganya yang tak bisa mengungsi. Tidak seperti di Independence Day di mana Presiden AS menjadi semacam ‘pemimpin dunia’ ketika menghadapi ancaman kebinasaan, 2012 ‘membunuh’ presidennya. Syahdan, Curtis dihadapkan pada kebetulan-kebetulan yang akhirnya membawa ia dan keluarganya ke Pegunungan Himalaya, tempat parkir bahtera itu. Nah, sampai di sini, kita agaknya sudah bisa membaca ke mana cerita akan berujung. Seorang kepala keluarga yang pernah gagal akan kembali menemukan cinta setelah menjadi pahlawan.

Dalam 2012, Emmerich memasukkan unsur multikulturalisme yang, mungkin, akan membantu pemasarannya. Karakter-karakter dari negeri India dan China muncul pada layar, yang kemudian secara kebetulan berhubungan satu sama lain, meskipun tidak diberikan peran sentral. Dunia juga kiranya ingin menyaksikan secara visual bagaimana kiranya ‘akhir dunia’ setelah mereka digempur dengan berbagai berita di media tentang kiamat 2012.

Yang pasti, ketika menonton film semacam ini kita tidak perlu banyak bertanya tentang bolong logika di sana-sini. Nikmati saja efek visualnya yang super mahal itu di depan layar putih dan tertawakan ketololan kita sekencang-kencangnya ketika telah keluar dari bioskop.

sumber : VIVAnews.com

Filed under: Hiburan , , , , , , ,

Emoticon Eggs | Seni Tingkat Tinggi dari Butiran Telur

Seni dan kreativitas tingkat tinggi. Itu yang pertama kali saya tangkap ketika melihat gambaran pada butir-butir telur ini. Ekspresi wajah (emotion) yang sangat mempesona dan mampu menarik perhatian. Ada rasa lucu, sebal, gemes, marah dan ekspresi wajah yang lain yang digambarkan dalam butir telur ini.

angry eggs

Pernahkah anda berpikiran untuk membuat hiasan dari telur setelah melihat gambar dari emoticon eggs di atas?

Filed under: ! Newsflash, Hiburan , , , ,

Under the Same Sun, Kita Semua Sama

Under The Same Sun Lyrics
Artist(Band): Scorpions

I saw the morning
It was shattered by a gun
Heard a scream, saw him fall, no one cried
I saw a mother
She was praying for her son
Bring him back, let him live, don’t let him die

Do you ever ask yourself
Is there a Heaven in the sky
Why can’t we get it right

’cause we all live under the same sun
We all walk under the same moon
Then why, why can’t we live as one

I saw the evening
Fading shadows one by one
We watch the lamb, lay down to the sacrifice
I saw the children
The children of the sun
How they wept, how they bled, how they died

Do you ever ask yourself
Is there a Heaven in the sky
Why can’t we stop the fight

’cause we all live under the same sun
We all walk under the same moon
Then why, why can’t we live as one

Sometimes I think I’m going mad
We’re loosing all we had and no one seems to care
But in my heart it doesn’t change
We’ve got to rearrange and bring our world some love

And does it really matter
If there’s a heaven up above
We sure could use some love

’cause we all live under the same sun
We all walk under the same moon
Then why, why can’t we live as one
’cause we all live under the same sky
We all look up at the same stars
Then why, tell me why can’t we live as one

Music :Mark Hudson
Lyrics:Klaus Meine, Bruce Fairbairn

Ketika mendengar lagu ini, sempat saya berpikiran kenapa kita tidak bisa rukun. Pada dasarnya kita adalah kodok yang berenang di dalam kolam yang sama. Yang setiap hari bersama. Bersama dalam susah. Dan akan saling berbagi kebahagiaan. Kita sebagai kodok sangat tergantung pada air kolam yang menyediakan makanan dan sumber kehidupan. Kita juga demikian. Kita sangat tergantung pada matahari. Karena kita tinggal di bawahnya. Kita semua sama. Tidak ada yang sama. Tidak ada yang tidak berada di bawah matahari. Tidak ada yang terletak di atas matahari. Kita berpijak di atas bumi yang sama.

Oleh karena itu, marilah kita semua berdamai. Menyingkirkan semua perbedaan untuk membawa bumi ini menjadi lebih baik. Mari kita jaga bumi ini jangan sampai dia terluka dengan bertambahnya usia.Sudahi semua peperangan. Hapus semua perselisihan. Untuk satu tujuan. Save our Earth.

Filed under: Hiburan , , ,