oRDiNaRyHomEBaSe

Just Welcome, Just Enjoy, n give your comment

2012: Mencari Kiamat ke Negeri Cina

Berbeda dengan Independence Day, 2012 ‘membunuh’ Presiden Amerika Serikat.

Roland Emmerich adalah kehancuran. Ia meluluhlantakkan beragam lansekap termasyhur Amerika Serikat dan dunia semacam Gedung Putih dan Empire State Building di Amerika Serikat, Patung Yesus Sang Penebus di Rio de Janeiro, Brazil, atau bahkan Basilika Santa Peter di Vatikan. Ia ternyata juga pernah berniat menyungkurkan Kabah yang kini masih tegak di Mekah, Arab Saudi, kota bagi peziarah muslim tahunan, dalam filmnya.

“Saya mesti mengakui bahwa saya pernah ingin melakukannya,” kata Emmerich seperti dikutip dari The Guardian, “tapi rekan saya Harald [Kloser] bilang harga kepala saya lebih mahal daripada sebuah film.” Si penghancur-segala nyatanya sungkan melawan fatwa pancung.

2012, film terbaru sutradara kelahiran Jerman itu, yang kini menggembungkan bioskop-bioskop dunia dengan penonton yang gemas dan penasaran, menjadi bukti atas ucapannya. Film yang bersandar dari perhitungan bangsa Maya yang, konon, menaksir bahwa dunia berakhir pada tahun 2012 itu tak jauh beda dengan karya-karya Emmerich lainnya seperti Independence Day atau The Day After Tomorrow. Penonton akan ‘dikotori’ dengan debu dari bangunan yang lunglai dan poranda, ‘dibasahi’ oleh air hujan yang berderai liar, serta ‘dicederai’ oleh tumbukan beton ratusan ton dan mobil yang lintang-pukang. Dunianya bukanlah dunia yang sarat dengan pertukaran antara sunyi, bunyi dan percakapan. Dunianya ramai dengan teriakan, ledakan, dan belulang remuk.

Kisah bermula ketika Dr Adrian Helmsley (Chiwetel Ejiofor) dan temannya, seorang ilmuwan India, menemukan bahwa inti bumi mulai meleleh, sesuatu yang dapat memicu bencana alam maha dahsyat. Dr Adrian terkejut, lalu membocorkan fenomena alam itu kepada pemerintah. Sebuah kelompok bawah tanah pun didirikan, yang didanai sekumpulan orang super kaya dunia. Mereka diam-diam membiayai pembangunan bahtera raksasa demi dapat menyelamatkan diri dari bencana.

Kamera lalu berpindah ke tokoh utama kita, Jackson Curtis, yang dimainkan dengan amat bersemangat oleh John Cusack. Ia seorang penulis novel fiksi ilmiah kapiran beranak dua yang pisah ranjang dengan istrinya.

Cerita mulai bergerak ketika Curtis dan kedua anaknya mengunjungi situs wisata kawah Yellowstone. Di sana ia bertemu dengan Charlie Frost, penyiar radio yang memercayai kiamat terjadi pada tahun 2012. Si penyiar mengungkapkan segala yang ia percayai. Seperti dapat ditebak, penonton sekalian, Curtis menihilkan cerita Charlie. Namun, perlahan, kisah Charlie berangsur terbukti. California, tempat mereka tinggal, dikerkah gempa sempurna. Tanah rengkah. Rumah goyah. Jembatan berantakan. Aksi penyelamatan a la Emmerich pun terjadilah. Curtis membawa anak-anak dan istrinya, serta lelaki-baru istrinya, menembus kota yang mulai binasa. Mereka coba menuju tempat rahasia di mana bahtera bersandar. Negeri Cina.

Dalam hiruk-pikuk evakuasi, Presiden Amerika Serikat memutuskan untuk tinggal. Ia ingin ‘menemani’ warganya yang tak bisa mengungsi. Tidak seperti di Independence Day di mana Presiden AS menjadi semacam ‘pemimpin dunia’ ketika menghadapi ancaman kebinasaan, 2012 ‘membunuh’ presidennya. Syahdan, Curtis dihadapkan pada kebetulan-kebetulan yang akhirnya membawa ia dan keluarganya ke Pegunungan Himalaya, tempat parkir bahtera itu. Nah, sampai di sini, kita agaknya sudah bisa membaca ke mana cerita akan berujung. Seorang kepala keluarga yang pernah gagal akan kembali menemukan cinta setelah menjadi pahlawan.

Dalam 2012, Emmerich memasukkan unsur multikulturalisme yang, mungkin, akan membantu pemasarannya. Karakter-karakter dari negeri India dan China muncul pada layar, yang kemudian secara kebetulan berhubungan satu sama lain, meskipun tidak diberikan peran sentral. Dunia juga kiranya ingin menyaksikan secara visual bagaimana kiranya ‘akhir dunia’ setelah mereka digempur dengan berbagai berita di media tentang kiamat 2012.

Yang pasti, ketika menonton film semacam ini kita tidak perlu banyak bertanya tentang bolong logika di sana-sini. Nikmati saja efek visualnya yang super mahal itu di depan layar putih dan tertawakan ketololan kita sekencang-kencangnya ketika telah keluar dari bioskop.

sumber : VIVAnews.com

Filed under: Hiburan , , , , , , ,

Laskar Pelangi

Semoga semangat belajar yang digambarkan dalam Laskar Pelangi ini adalah milik para generasi muda Indonesia seluruhnya. Amin.

Jangan ngaku penggila ni novel kalo belum sempat nonton filmnya. Setelah tidak kebagian tiket untuk pemutaran perdananya yang tanggal 25 September kemarin, I’ve got the second view :D .

This film is not so amazing seperti yang saya bayangin sebelumnya. Meskipun begitu, two thumbs up saya berikan pada Miles Film dan Mizan Production yang telah berani mengangkat cerita dari novel karya Andre Hirata ini menjadi sebuah film. Yang saya akui mengangkat film dari novel yang meraih best seller adalah sebuah kebanggaan, sekaligus kesulitan tersendiri. Karena bagaimanapun sutradara harus dapat (kalaupun bisa adalah melebihi atau paling tidak mendekati) untuk membuat para pemirsa berdebar jantungnya ketika menyaksikan film tersebut layaknya para pembaca novel tersebut. Feel itulah yang belum saya dapatkan pas ketika melihat film ini. Yang saya dapatkan adalah feel lain, yang murni tergambar dari film ini, dan terlepas dari novel tersebut, yaitu kepandaian dari sineas nomor satu Indonesia dalam memvisualisasikan coretan-coretan skrip menjadi gambaran utuh suatu kehidupan.

The other thump saya kasih buat film ini adalah penggambaran adegan yang merupakan ironi antara keinginan kuat anak-anak Belitung untuk belajar dengan kekurangan yang mereka miliki untuk melakukannya. Antara keinginan untuk bersekolah dengan adanya kekangan budaya dan kebutuhan ekonomi yang mengharuskan mereka untuk bekerja. Dan hasrat yang kuat untuk meraih cita-cita dengan halangan yang harus mereka jalani, salah satunya adalah diskriminasi karena mereka adalah anak-anak miskin. Serta adanya dua kutub yang sangat bertolak belakang. Kepintaran Lintang dibandingkan dengan miskinnya sarana prasarana yang mendukung belajarnya. Semangat ayah Lintang yang menyekolahkan anaknya demi masa depan si anak, yang harus terhenti karena kematian si ayah. Kekayaan PN Timah dengan kemiskinan masyarakat sekitar.

Supaya tidak saya saja yang berkomentar silakan disaksikan sendiri filmnya, dan jangan lupa membaca novelnya. Salut buat Laskar Pelangi.

Filed under: ! Newsflash, Gaya Hidup, Pendidikan, Wisata , , ,